Bogor - potretselebriti.com - Ancaman limbah berbahaya menghantui warga Kampung Lumpang, Desa Lumpang, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor. Puluhan warga turun ke jalan memprotes keberadaan sebuah pabrik pengelolaan limbah B3 yang berlokasi tidak jauh dari permukiman. Warga mendesak penutupan total pabrik karena dinilai membahayakan kesehatan dan mencemari lingkungan.
Dampak yang dirasakan warga bukan sekadar bau tak sedap. Sejumlah warga mengaku mengalami bentol-bentol merah, gatal parah, hingga gangguan pernapasan akibat aroma menyengat yang diduga kuat berasal dari aktivitas pabrik tersebut.
Lebih mengkhawatirkan, seorang balita berusia lima bulan dilaporkan mengalami bentol dan iritasi kulit selama tiga bulan terakhir. Ibunya, Siti Sulaepah, warga Desa Lumpang, menyebut kondisi sang anak tak kunjung membaik meski telah berobat ke berbagai fasilitas kesehatan.
“Sejak anak saya kena bentol-bentol, malam susah tidur, nangis terus. Sudah berobat ke mana-mana tapi belum ada perkembangan. Kami curiga ini akibat limbah pabrik,” ujar Sulaepah dengan suara bergetar.
Ia menambahkan, sungai dan air sumur bor milik warga diduga telah tercemar, membuat warga takut menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi dan mencuci.
Keluhan serupa disampaikan Lasmawati (54), warga lain yang mengaku baru kali ini mengalami penyakit kulit setelah puluhan tahun tinggal di wilayah tersebut.
“Saya sudah tinggal di sini lama sekali, baru sekarang ini air sumur bau menyengat dan bikin gatal. Setiap dipakai langsung terasa di kulit,” katanya.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran warga bahwa pencemaran telah masuk ke sumber air tanah, yang berpotensi menimbulkan krisis kesehatan jangka panjang jika tidak segera ditangani.
Menanggapi aksi protes warga dari Desa Lumpang dan Desa Gintung Cilejet, Kepala Desa Lumpang, M. Rosid Faisal, mengakui adanya laporan pencemaran lingkungan yang diduga berasal dari aktivitas pabrik limbah tersebut.
Ia menyatakan, pemerintah desa telah mengambil langkah tegas dengan melayangkan surat penghentian operasional pabrik menyusul dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ada lima warga yang menjadi korban, satu di antaranya balita. Semua yang terdampak sudah kami fasilitasi untuk mendapatkan penanganan medis,” ujar Rosid.
Meski demikian, warga menilai langkah tersebut belum cukup. Mereka menuntut penutupan permanen dan investigasi menyeluruh oleh pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, sebelum jumlah korban bertambah.
Dengan bau menyengat yang masih tercium dan keluhan kesehatan yang terus bermunculan, warga Desa Lumpang kini hidup dalam kecemasan, seolah “dicekoki” limbah berbahaya setiap hari di rumah mereka sendiri.
Red.


Posting Komentar